KEKUATAN IMAJINASI SEBAGAI KREATIVITAS ANAK

Posted by Radja Paguntaka Senin, 17 Agustus 2009 2 komentar
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Untuk dapat mencapai sebuah pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pedidikan yang mampu memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Di antaranya adalah manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Masih banyak kita temukan fakta-fakta di lapangan sistem pengelolaan anak didik yang masih mengunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan tentunya kurang mmberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan meguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikan hasilnya. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah.
Kebutuhan akan kreativitas tampak dan dirasakan pada semua kegiatan manusia. Perkembangan akhir dari kreativitas akan terkait dengan empat aspek, yaitu: aspek pribadi, pendorong, proses dan produk. Kreativitas akan muncul dari interaksi yang unik dengan lingkungannya.Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi intrinstik ini adalah intelegensi, memang secara historis kretivitas dan keberbakatan diartikan sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tes intellejensi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikan anak berbakat intelektual tetapi pada akhirnya hal inipun menjadi masalah karena apabila kreativitas dan keberbakatan dilihat dari perspektif intelejensi berbagai talenta khusus yang ada pada peserta didik kurang diperhatikan yang akhirnya melestarikan dan mengembang biakkan Pendidikan Tradisional Konvensional yang berorientasi dan sangat menghargai kecerdasan linguistik dan logika matematik. Padahal, Teori psikologi pendidikan terbaru yang menghasilkan revolusi paradigma pemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yang mengidentifikasikan bahwa dalam diri setiap anak apabila dirinya terlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan pada susunan syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh mereka.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1. Apakah kreativitas dan manfaatnya?
1.2.2. Apakah perbedaan berfikir kreatif dan analitis?
1.2.3. Bagaimanakah kreativitas pada anak?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1. Untuk menjelaskan pengertian kreativitas dan manfaatnya.
1.3.2. Untuk menjelaskan perbedaan berfikir kreatif dan analitis.
1.3.3. Untuk menjelaskan kreativitas pada anak.









II. BAHASAN
2.1. Pengertian Kreativitas dan Manfaatnya
Para ahli memberikan banyak pengertian atau definisi tentang kreativitas, antara lain apa yang dikemukakan oleh Herbert Fox, Enrich Fromm dan Kegan Paul di bawah ini :
- Kreativitas adalah proses berpikir menyebar (divergen) untuk memecahkan masalah secara orisinil dan layak untuk dilaksanakan (Herbert Fox).
- Kreativitas adalah kemampuan melihat problem secara dini dan meresponnya secara tepat (Enrich Fromm).
- Kreativitas adalah kemampuan berimajinasi dan berpikir orisinil dalam perkataan dan gagasan (Kegan Paul).
Jika kita perhatikan definisi para ahli tersebut, ada tiga kata kunci yang berhubungan dengan kreativitas yakni gagasan (pemikiran), orisinil (baru) dan pemecahan masalah. Jadi kreativitas dapat dikatakan sebagai kemampuan untuk menghadirkan suatu gagasan (pemikiran) baru untuk memecahkan masalah.
Kita juga perlu mengetahui perbedaan antara kreativitas dengan inovasi. Kreativitas terjadi dalam tataran ide, sedang inovasi adalah kreativitas yang telah diwujudkan dalam bentuk produk (barang, jasa atau aturan/konsep). Inovasi tidak mungkin terjadi tanpa didahului oleh proses kreativitas dan kreativitas menjadi kurang bermanfaat jika tidak ditindaklanjuti dengan proses inovasi.

Menurut Prof. Dr. Winardi, kreativitas merupakan sifat yang sangat penting dimiliki oleh setiap orang agar dapat survive (bertahan) dan mampu “memperbarui” dalam kondisi zaman yang sangat kompetitif saat ini. Kreativitas bermanfaat untuk membantu kita dalam memecahkan masalah secara lebih efisien dan efektif, membuat kita mampu menghasilkan produk yang inovatif sesuai dengan perkembangan jaman, serta membuat hidup menjadi lebih bergairah dan tidak membosankan.
Kreativitas berarti kita secara aktif mencari dan mengembangkan gagasan secara terus-menerus. Seperti halnya seorang penjelajah, seorang kreatif senantiasa berusaha mencari berbagai cara yang berbeda untuk mengerjakan sesuatu. Seorang penjelajah pikiran meyakini bahwa ada banyak kemungkinan, peluang, produk, jasa, teman, metoda dan gagasan yang menunggu untuk ditemukan. Banyak kemajuan yang signifikan di bidang seni, bisnis, pendidikan dan ilmu pengetahuan terjadi karena seseorang yang senantiasa menjelajahi alam pikiran dan mengeksplorasi hal-hal yang belum pernah dipikirkan oleh orang lain sebelumnya. Para penjelajah tidak takut dengan ketidaktahuan dan ketidakpastian. Mereka yakin bahwa kebahagiaan dan kesuksesan tidak datang dari mengikuti jejak orang lain, melainkan mencari dan mencari jalannya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Robert E. Peary penjelajah pertama yang mencapai Kutub Utara: In veniam viam aut faciam (I will find a way or make one – saya akan menemukan jalan atau membuat jalan baru).
2.2. Perbedaan berfikir kreatif dan analitis.
Masih ada sementara orang yang menganggap kreativitas berhubungan erat dengan kemampuan berpikir logis-analitis (yang sering digambarkan dengan tingkat kemampuan intelektual atau IQ). Padahal pola berpikir kreatif sangat berbeda dengan pola berpikir logis-analitis. Hal ini disebabkan otak manusia –sebagai tempat berpikir—terdiri dari dua bagian besar. Otak bagian kanan menghasilkan pola berpikir kreatif, imajinatif dan abstraktif. Sebaliknya otak bagian kiri menghasilkan pola berpikir logis, analitis dan sistematis.



Untuk lebih jelasnya, di bawah ini disebutkan perbedaan pola berpikir kreatif dan analitis:

Pola berpikir kreatif Pola berpikir analitis
- Imajinatif
- Tidak dapat diramalkan
- Divergen (menyebar)
- Lateral (Horisontal) - Logis
- Dapat diramalkan
- Konvergen (menyempit)
- Vertikal
Perbedaan pola berpikir ini menyebabkan perlu dikembangkannya dua bagian otak manusia tersebut secara seimbang. Orang yang lebih menonjol otak kirinya (berpikir analitis) cenderung menjadi orang yang terlalu rasional (mungkin meragukan hal-hal yang transidental), konservatif, tidak fleksibel, takut menghadapi resiko, sering terlambat mengantisipasi perubahan, tidak sensitif terhadap problem, pembosan, dan sulit menjadi pemimpin yang baik. Orang yang terlalu menonjol otak kirinya (berpikir kreatif) akan cenderung menjadi orang yang pengkhayal, tidak realistis, pemberontak, tidak adaptif dengan lingkungan, dan sulit bekerjasama dengan orang lain. Akhirnya, ketimpangan pada pengembangan dua pola berpikir tersebut berakibat pada tidak efisien dan efektifnya kita dalam melihat dan memecahkan persoalan dalam hidup ini.
2.3. Kreativitas pada anak.
Dengan berimajinasi seorang anak dapat mengangkat bakat terpendamnya dari semak belukar hutan rimba yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir maupun yang merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. Keberbakatan itu ditentukan oleh kebutuhan maupun kecenderungan kebudayaan di mana seseorang anak yang berbakat itu hidup.
Dalam berimajinasi terkandung dua makna yaitu inovasi dan kreasi yang ditunjang oleh lingkungan suasana belajar yang menyenangkan. Oleh sebab itu, jika anak berada dalam situasi ini pola asuh yang hangat sangat diperlukan untuk memacu kreativitasnya. Terlebih apabila seorang anak sedang berada dalam suasana “yang jauh dari kenyataan” dengan sarana bermain, di sanalah imajinasi anak sedang diuji dalam proses pembelajarannya.
Bila imajinasi kreatif anak muncul, maka otak anak memiliki energi dan kapasitas unik untuk melanjutkan kegiatan, serta mensinergikan atau mengkombinasikan dan tukar menukar pola pembelajaran dengan cara-cara baru. Imajinasi adalah proses mental manusiawi yang menjadikan semua kekuatan emotif berpartisipasi dalam menstimulasikan, memberi energi pada tindakan kreatif.
Jika kreativitas sangat vital dimiliki oleh setiap orang, lalu apakah kreativitas perlu ditumbuhkan dan dikembangkan sejak masa anak-anak? Jawaban yang tepat adalah kreativitas tak perlu dikembangkan pada masa anak-anak. Sebab setiap anak terlahir dengan bakat kreativitas yang sama.
Pada akhir 1940-an, sekelompok ahli psikologi Amerika melakukan penelitian untuk membuktikan apakah kreativitas itu merupakan bakat atau latihan. Mereka mendisain suatu uji kreativitas dan memberikannya kepada sekelompok orang yang berbeda umur. Ketika tes tersebut diujikan kepada mereka yang berusia 45 tahun hasilnya kurang dari 5 % dari mereka yang dinyatakan kreatif. Kemudian mereka melanjutkan memberikan uji kreativitas tersebut kepada orang yang berusia lebih muda. Mereka memberikannya kepada orang yang berusia 40, 35, 30, dan 20 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya 5% saja dari kelompok-kelompok itu yang memiliki daya kreativitas. Akhirnya baru tampak kenaikan sampai 10% setelah uji coba diberikan kepada sekelompok orang yang berusia 17 tahun. Dan kemudian ketika uji coba itu diberikan pada anak-anak yang berusia 5 tahun, jumlahnya melejit sampai 90%! Apa kesimpulannya? Semua orang ternyata dilahirkan untuk menjadi kreatif.
Penelitian ini membuktikan bahwa yang perlu dilakukan pada anak-anak kita adalah menjaga agar bakat kreativitasnya dapat tumbuh secara normal dan utuh tanpa mengalami hambatan. Jadi yang membuat seorang anak atau orang yang telah dewasa tidak kreatif adalah karena ia mengalami hambatan kreativitas sejak kecil, sehingga bakat kreativitasnya menjadi terpendam dan tidak muncul secara wajar.
Menurut Carol Kinsey Goman, paling tidak ada lima hambatan kreativitas :
1. Sikap negatif terhadap diri sendiri
2. Ketegangan yang berlebihan
3. Pengikut aturan rutin
4. Cepat menarik kesimpulan
5. Terlalu tergantung pada logika
Lima hambatan tersebut dominan dipengaruhi oleh suasana lingkungan dimana seseorang dibesarkan. Jika seseorang, sejak masa kecil telah dibesarkan pada lingkungan yang tidak kondusif untuk berkembangnya kreativitas maka ia akan menjadi orang yang tidak atau kurang kreatif. Sebaliknya, jika lingkungan yang membesarkannya kondusif dengan perilaku kreatif maka ia akan tumbuh menjadi orang yang kreatif.
Menurut David Campbell, seorang anak semestinya dibesarkan pada lingkungan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut agar bakat kreativitasnya berkembang :
1. Menghargai anak sebagai pribadi
2. Memiliki contoh kreativitas dari anggota keluarga lainnya
3. Menaruh perhatian pada pengembangan bakat anak
4. Mempunyai patokan etika yang jelas
5. Tidak terlalu khawatir tentang anak-anak
6. Sering berpindah tempat tinggal
Selain itu, anak juga perlu diberikan dorongan agar kreatif, berupa :
- Kesempatan untuk mengetahui berbagai hal
- Kesempatan untuk mengemukakan ide dan bertanya
- Kebebasan bertindak tanpa aturan yang terlalu ketat
- Pemberian hadiah yang merangsang kreativitas
- Berkenalan dengan orang-orang, terutama orang yang kreatif
- Mengembangkan fantasi
- Melatih sikap positif dan tidak takut gagal
- Bertualang dan melakukan perjalanan
- Mengembangkan kemampuan seni
Tentu saja semua itu perlu dilakukankan dalam kerangka yang positif, yaitu bagaimana agar anak kita menjadi orang kreatif, tetapi tetap menjujung nilai-nilai moral dan akhlak yang baik. Sebab kreativitas tanpa moral adalah anarki.
III. PENUTUP
3.1. Simpulan
Berimajinasi bukan kaca cermin kemalasan dan tidak produktif karena hanyut dalam dunia “berkhayal”. Cara pandang ini tentu saja kekeliruan besar, justeru dengan imajinasi manusia berikhtiar untuk mendekatkan anugerah Tuhan dengan segala ciptaannya di jagad alam ini. Berkhayal di sini yang dimaksud bukan imajinasi hasil dari realitas tontonan masyarakat dari pengaruh tayangan televisi yang ”menyesatkan” akhir-akhir ini. Melainkan berkhayal atau berimajinasi yang positif dan kreatif dengan memanfaatkan kelebihan otak sebagai anugerah Tuhan.Manusia dilahirkan dengan potensi kreativitas. Inilah ciri yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain adalah kreativitas kita atau kemampuan kita mencipta. Hal ini merupakan sifat hakiki (fitrah) kita sebagai manusia dan merupakan bagian dari siapa kita.
Kreativitas merupakan potensi manusia yang dibawa sejak lahir. Melalui kekuasaan Tuhan, sesungguhnya alam ini telah mengajarkan kepada manusia untuk berpikir
kreatif. Sebagai kata penutup mari kita damping, didik dan latih anak kita untuk berimajinasi sebagai cermin kreativitas anak.
3.2. Referensi
Hewitt, K, Rayner (2006). A lonely World, Jakarta, November 2003, Prestasi Pustakarya.
Paul Gorski, Paradigm Shiifd For Education and The Question dalam www. Edchange.org
Syah, M. (2002). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : Rosda Karya.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: KEKUATAN IMAJINASI SEBAGAI KREATIVITAS ANAK
Ditulis oleh Radja Paguntaka
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://radjapaguntaka.blogspot.com/2009/08/kekuatan-imajinasi-sebagai-kreativitas.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

2 komentar:

Radja Paguntaka mengatakan...

Good Good

Sepeda mengatakan...

Thx infonya

Posting Komentar

Cara Buat Email Di Google | Copyright of Radja Paguntaka.